Dikutip dari Buku Belajar kepada Lebah dan Lalat (Langkah Cerdas Mendapatkan Keberkahan dan Kekayaan Hidup), karya KH. Agoes Ali M.
Mengenal sang maha pemberi
rezeki
Allah
Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq)
Allah
berfirman dalam QS. Hud :6
“Dan tidak
ada satu binatang melata pun dimuka bumi melainkan Allah-lah yang
memberirezekinya,dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata.”
Imam Ghazali
membagi rezeki kedalam dua bagian. Pertama , rezeki lahiriah. Kedua, rezeki
batiniah
Penghambat
Jalannya Rezeki
- Lepasnya
ketawakalan dalam hati
- Dosa dan
Kemaksiatan
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya
seseorang terjauh dari rezeki disebabkan
oleh perbuatan dosanya. (HR. Ahmad)
- Maksiat saat
mencari nafkah
- Pekerjaan yang
melalaikan kita dari mengingat Allah
- Enggan Bersedekah
SESUNGGUHNYA KITA
DICIPTAKAN UNTUK KAYA
- Kaya
adalah yang paling sedikit kebergantungannya pada sesuatu
Rasulullah
saw bersabda : “Allah swt berfirman ‘Wahai Anak Adam luangkanlah waktu untuk
beribadah kepada-Ku niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Kututupi
kefakiranmu. Dan jika engkau tidak berbuat (menyediakan waktu untuk beribadah
kepada-Ku) niscaya akan Kupenuhi dadamu dengan kesibukan (keruwetan) dan tak
akan Ku tutupi keperluan (kefakiran)’.” (HR. Ahmad)
- Jangan
suka menganggur
“Jika Anda
tidak menyibukkan diri dengan kebenaran. Anda akan disibukan oleh kebatilan. -
imam Syafi’i
Kerja adalah ibadah
- Keduanya memiliki
hubungan kuat terkait dengan kewajiban manusia kepada Allah, khususnya
kewajiban mendapatkan nafkah
- Mencari rezeki
halal merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim
- Tingkat kewajiban
mencari rezeki halal merupakan kewajiban kedua setelah menunaikan kewajiban
ibadah yang sifatnya murni
- Mencari rezeki yang
halal sama nilainya seperti jihad disini bukan jihad mengangkat senjata untuk
membela agama / membela negara, namun jihad mencari nafkah untuk memperjuangkan
kehidupan anak, pasangan, dan keluarga
- Keduanya memiliki
hubungan kuat terkait dengan kewajiban manusia kepada Allah, khususnya
kewajiban mendapatkan nafkah
- Mencari rezeki
halal merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim
- Tingkat kewajiban
mencari rezeki halal merupakan kewajiban kedua setelah menunaikan kewajiban
ibadah yang sifatnya murni
- Mencari rezeki
yang halal sama nilainya seperti jihad disini bukan jihad mengangkat senjata
untuk membela agama / membela negara, namun jihad mencari nafkah untuk
memperjuangkan kehidupan anak, pasangan, dan keluarga
Langkah cerdas menjemput
keberkahan
- Memulai setiap
pekerjaan yang berarti dengan berzikir kepada Allah
- Takut kepada
Allah dan takut akan azab-Nya
- Mendirikan dan
menjaga shalat
- Ridha kepada
pembagian Allah
- Sedekah Harta
- Allah akan melipatgandakan harta yang disedekahkan
- Tidak berkurang harta yang disedekahkan
Rasulullah saw bersabda, “ Ada tiga hal
yang aku bersumpah, maka hafalkanlah: (1) tidak akan berkurang harta karena
sedekah; (2) tidak ada seorang pun hamba yang dizalimi kemudian ia bersabar,
pasti Allah akan menambahkan kemuliaan; (3) tidak ada seorang hamba pun membuka
pintu meminta-minta, kecuali Allah akan membukakan pintu baginya kefakiran.
(HR. At-Tirmidzi)
- Perbanyak membaca
Istighfar
Rasulullah saw bersabda, “ Barang siapa yang selalu menjaga
istighfar, maka Allah akan memberi jalan keluar dalam setiap kesempitannya,
membukakan jalan dari kesusahannya, serta Allah akan memberinya rezeki dari
yang tidak disangka-sangka.” (HR. AbuDawud, An-Nasai, dan Ibnu Majah)
- Silaturahim
Rasulullah Saw bersabda, “ Barang siapa yang ingin diluaskan
rezekinya, atau ingin jejak sejarahnya dikenang selalu, hendaklah ia
bersilaturahim. (HR. Al-Bukhari)
- Makan
bersama-sama
Rasulullah saw bersabda, makanlah kalian semua dan janganlah
kalian bercerai berai, karena sesungguhnya keberkahan itu bersama jamaah. (HR.
Ibnu Majah)
- Berangkat
pagi-pagi dalam usaha mencari rezeki
- Jujur dalam jual
beli
PENGHALANG KEBERKAHAN
- Memakan harta
yang tidak halal
-
Berbuat maksiat
dan dosa
Rasulullah saw berrsabda, Sungguh, sesorang ituakan terhalang
dari rezekinya disebabkan dosa yang diperbuatnya.’ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
- Pengkhianatan
dalam rumah tangga
- Pengkhianatan
dalam kongsi bisnis.
- Melampaui batas
dan berbuat zina
- Sumpah palsu
Rasulullah saw bersabda, Sumpah itu kelihatannya bisa cepat
melarisan barang, tapi ia bisa menghapus keberkahan.” (HR. Al Bukhari)
- Memakan riba
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah (QS. Al
Baqarah: 276)
- Fitnah
- Menyembunyikan
cacat dan berbohomng dalam jual beli
- Tidak melaksanakan
hak harta (zakat)
- Berbuat curang
dalam timbangan dan takaran
- Tidak mau
bersedekah takut uanngnya habis
Berguru pada lebah dan
lalat
Dalam
kehidupannya lebah benar-benar binatang yang selektif, sedangkan lalat tidak
selektif
40 Pelajaran Dari Lebah
Sumber: Syekh Abu Thalib al-Makki *
Allah Swt. befirman:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا
وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit,
di pohon-pohon, dan di tempat-tempat yang dibangun manusia!”
Dalam benakku muncul pertanyaan: mengapa Allah Swt. memberi wahyu kepada lebah,
tidak kepada burung atau hewan bersayap lainnya? Saya telah berusaha keras
untuk mendapatkan jawaban. Alhamdulillah, akhirnya Tuhan memberiku banyak
pemahaman dan ide mengenai apa yang selama ini aku pertanyakan. Saya menandai
tidak kurang dari empat puluh karakter ada pada lebah. Saya yakin, karena
karakter-karakter itulah Allah Swt. memilih dan mengunggulkan lebah di antara
hewan-hewan lainnya. Hal ini akan saya jelaskan tidak lama lagi.
Sebelum itu, saya tegaskan bahwa Allah Swt. telah mendorong kita menafakuri
kehidupan lebah. Allah mengisyaratkan bahwa ada banyak pelajaran dan
tanda-tanda kekuasaan-Nya pada lebah. Allah menyemangati manusia untuk mereguk
banyak ilmu dan hikmah dari kehidupan lebah. Saya sendiri menemukan empat puluh
karakter pada lebah. Semuanya merupakan karakter yang terpuji, baik, utama,
mulia, indah, lembut, dan seterusnya. Semua itu ada—dan harus ada—pada diri
seorang mukmin. Saya akan sebutkan setiap karakter secara ringkas, dengan
harapan semoga menjadi peringatan bagi setiap mukmin yang mau membuka hati
serta petunjuk bagi orang yang mempunyai akal dan pikiran. Saya yakin,
karakter-karakter lebah yang akan saya paparkan merupakan bagian ilmu Alquran
yang tersimpan di balik perumpamaan Alquran dan harus digali lewat tafakur dan
olah nalar.
Sifat dan Karakter lebah yang harus dimiliki setiap mukmin
1. Seandainya semua jenis hewan terbang lainnya berkumpul,
lalu mereka bahu-membahu melakukan satu pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh
lebah, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Demikian juga seandainya seluruh
manusia non-mukmin bersatu untuk melakukan satu amal yang sepadan dalam
kualitas, kadar, dan nilai dengan amal seorang mukmin, niscaya mereka tidak akan
sanggup melakukannya.
2. Lebah waspada akan gangguan dan penganiayaan burung,
sedangkan ia sendiri tidak pernah mengganggu mereka. Demikian pula halnya
dengan seorang mukmin. Meskipun orang-orang mengganggu, menghina, dan
menzaliminya, seorang mukmin tidak mau membalas kejahatan mereka.
3. Lebah dianggap kecil dan hina oleh semua jenis burung,
tetapi sekiranya mereka tahu apa yang ada di dalam perut lebah dan
mencicipinya, niscaya mereka akan memuliakan dan menghormatinya. Demikian juga
seorang mukmin. Orang-orang bodoh menganggapnya kecil, rendah, dan hina.
Andaikan mereka tahu apa yang ada di dalam hati seorang mukmin berupa keindahan
iman, ketulusan, rahasia-rahasia Tuhan, dan sebagainya, pastilah mereka rela
menjadi tanah tempat kakinya berpijak atau mengangkatnya di atas kepala mereka.
4. Semua jenis burung hidup untuk diri mereka sendiri,
mencari makan dan kebutuhan lainnya hanya untuk diri masing-masing. Lain halnya
dengan lebah. Ia hidup untuk sesamanya dan selalu berusaha untuk memenuhi
kebutuhan rajanya. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin. Di saat semua
orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kesenangannya sendiri, ia
hidup di dunia ini untuk Allah Swt.. Hidupnya ia pergunakan untuk melakukan
ketaatan kepada-Nya serta bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan orang
lain.
5. Kala malam tiba, semua burung masuk ke sarang
masing-masing untuk beristirahat dan tidur. Mereka berhenti bekerja. Lain
halnya dengan lebah. Ia lebih banyak bekerja di malam hari ketimbang di siang
hari. Demikian juga seorang mukmin. Di waktu malam, saat orang-orang mengurung
diri di rumah masing-masing, beristirahat dan tidur, seorang mukmin bangkit
melangkahkan kaki mengambil air wudu, salat, lalu bermunajat kepada Tuhan
seraya menyerahkan seluruh hidupnya dan mengadukan segala persoalan kepada-Nya.
6. Allah Swt. mengharamkan membunuh dan mengganggu lebah,
tetapi menghalalkan manfaat yang dihasilkannya. Begitu pula seorang mukmin.
Allah Swt. mengharamkan membunuhnya dan melarang mengganggu harga diri, harta,
dan keluarganya, tetapi menghalalkan kebaikan dan manfaat yang diberikannya
bagi siapa saja yang berhak menerima.
7. Lebah bekerja secara sembunyi-sembunyi. Orang hanya
melihat dan menikmati hasilnya. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin.
Dengan ikhlas ia menyembunyikan amalnya dari penglihatan orang. Mereka baru
melihat hasilnya nanti pada hari semua amal ditampakkan, yakni pada Hari
Kiamat.
8. Lebah hanya mengambil apa yang ia butuhkan saja dari
sesuatu tanpa merusak sesuatu itu. Begitu juga seorang mukmin. Ia hanya
mengambil dari dunia ini apa yang benar-benar diperlukannya saja, yang dapat
membawa kebaikan bagi diri, agama, dan hatinya. Apa yang ia ambil dijadikannya
bekal untuk akhirat tanpa merusak atau menimbulkan kerugian pada sumber
asalnya, dan tidak berlebihan.
9. Lebah tidak mau keluar dari sarang untuk memenuhi
keperluannya pada hari yang berawan, ketika hujan, saat ada angin kencang, atau
tatkala ada petir. Dalam keadaan seperti itu, ia tetap bertahan di sarang
sampai keadaan benar-benar normal. Seperti itu pulalah seorang mukmin. Ia
selalu berhati-hati dan pandai menahan diri ketika kezaliman merajalela,
keharaman tersebar di mana-mana, kekacauan mendominasi suasana, dan keadaan
carut-marut. Dalam keadaan yang tidak kondusif seperti itu, ia memilih tinggal
di rumah serta menahan mulut dan tangannya, seraya menunggu apa yang akan Allah
Swt. lakukan atas keadaan yang tengah berlangsung.
10. Lebah selalu menjauhi benda-benda yang kotor dan tidak
mau hinggap di tempat-tempat yang kotor. Begitu pula seorang mukmin. Ia
senantiasa menjaga kesucian diri dari maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Ia
selalu menjauhi segala sesuatu yang buruk, kotor, dan keji.
11. Ada sepuluh hal yang dapat menghancurkan dan merusak
tatanan kehidupan lebah sehingga aktivitasnya terhenti, yaitu: asap, dingin,
panas, awan, api, air, angin, gelap, lumpur, serta gangguan dan serangan dari
sesama lebah atau musuh dari luar. Demikian juga seorang mukmin. Ada sepuluh
hal yang dapat merobek keutuhan hatinya, merusak agamanya, dan menghentikan
amalnya. Kabut kekerasan dan kelalaian hati, dinginnya rayuan dosa dan maksiat
yang menusuk, panasnya hawa nafsu yang membakar, awan keraguan, api
kemusyrikan, topan cinta dunia, gelapnya kebodohan, angin cobaan dan fitnah,
bau busuknya keharaman, lumpur kebejatan, kezaliman dan kemungkaran, gangguan
dari sesama manusia yang secara lahir berbaju iman tetapi hakikatnya penganut
bidah dan pengidap kemunafikan, serta gangguan dari musuh, yaitu orang kafir.
Kita memohon perlindungan kepada Allah Swt. dari segala ancaman membahayakan
ini.
12. Lebah tidak mau berbaur dengan hewan lain yang tidak
sejenis meskipun memiliki beberapa sifat yang mirip. Seperti itu pulalah
seorang mukmin. Ia tidak mau berbaur dan bergaul akrab dengan orang yang tidak
memiliki sifat yang sama walaupun nama dan bentuk mempunyai kemiripan.
13. Dari perut lebah keluar lebih dari satu cairan yang
berbeda-beda warna. Setiap cairan mempunyai manfaat tersendiri yang
mengagumkan. Demikian juga halnya dengan seorang mukmin. Dari hatinya keluar
banyak ‘cairan’ yang beragam warna dan manfaatnya. Apa keluar dari hatinya itu
mengalir lewat mulutnya berupa ilmu, hikmah, kata-kata bijak, isyarat,
kecerdasan, cinta dan kasih sayang, kejujuran, nasihat, dan sebagainya.
14. Lebah mengeluarkan kotorannya lewat dubur, sedangkan madu
dikeluarkannya lewat mulut. Begitu pula seorang mukmin. Syahadat tauhid,
beragam ilmu, bacaan Alquran, zikir, kata-kata yang baik, serta amar-makruf dan
nahi-mungkar dikeluarkannya dari mulut dengan pengucapan lidahnya. Adapun
kotoran dan hadas dikeluarkannya lewat kubul atau dubur.
15. Lebah memakan yang baik, mengeluarkan yang baik, serta
memberi kepada yang lain makanan yang lezat dan baik. Demikian juga seorang
mukmin. Makanan yang dikonsumsinya baik dan ilmu yang diberikannya juga baik.
16. Lebah, bila hinggap di ranting atau dahan pohon, tidak
mematahkannya. Bila meneguk sedikit air sesuai kebutuhannya, lebah tidak
menyebabkan air yang ditinggalkan menjadi keruh. Bila mengisap sari bunga,
lebah tidak merusak bagian bunga lainnya. Demikian pula halnya dengan seorang
mukmin. Ia berinteraksi dengan sesama manusia dalam banyak hal dengan penuh
perhitungan, keadilan, kasih sayang, dan nasihat. Ia bergaul sekadar untuk tahu
tanpa menyakiti atau menganiaya serta memisahkan diri untuk menjaga keselamatan
dan kesucian.
17. Jika ada orang yang coba mengusik lebah, menggangu
ketenangan dan kehidupannya dengan mempermainkan atau merusak sarangnya, lebah
pasti tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan menyengat orang usil itu.
Sebaliknya, jika seseorang berdamai dengan lebah, tidak mengusik ketenangannya,
dan tidak mengganggu kehidupannya, maka lebah pun tidak akan berbuat apa-apa
terhadapnya. Seperti itu pula watak, perilaku, dan sikap seorang mukmin.
Terhadap orang yang meredam kemungkaran, tidak menunjukkan kemunafikan, dan
tidak mempertontonkan kejahatan, ia tidak akan memata-matai atau menelisik
jejaknya. Terhadap orang yang sebaliknya, ia akan mengingatkan dengan lisan dan
mencegah dengan tangan (kekuasaan).
18. Lebah, kita lihat, selalu terbang di taman-taman bunga
dan mengitari tempat-tempat yang wangi di pinggir-pinggir sungai atau di
warung-warung yang menjual makanan manis. Demikian pula halnya dengan seorang
mukmin. Engkau akan melihatnya selalu berada di majelis-majelis ilmu dan zikir
serta di rumah para ulama, ahli hikmah, dan ahli makrifat yang berzuhud.
19. Lebah, bila hinggap di atas sekuntum bunga, tidak akan
beranjak sebelum benar-benar kenyang mengisap sari bunga. Ia lebih memilih mati
di taman bunga daripada pulang sebelum memperoleh apa yang dicarinya. Seperti
itu pulalah seorang mukmin. Ketika mereguk manisnya takarub dengan Tuhan dan
bertemu dengan seorang ahli hikmah, ulama yang memberinya nasihat agama, atau
ahli makrifat yang menceritakan pengalaman rohani, ia akan merasa betah bersama
mereka. Ketika melakukan amal saleh pun, ia enggan berhenti sampai kematian
menghentikannya.
20. Di musim semi dan musim panas lebah memindahkan cadangan
makanannya dari luar ke dalam sarang hingga penuh, sedangkan ia sendiri tinggal
di luar sarang. Di musim dingin, ia masuk ke sarangnya dan berdiam di dalamnya
sambil menata kembali tata ruang sarang. Demikian pula seorang mukmin. Di musim
semi dan musim panas ia bekerja untuk memenuhi keperluan pangannya dan
kebutuhan keluarganya yang bersifat primer. Begitu masuk musim dingin, ia
segera mendatangi majelis-majelis ilmu dan zikir, mengunjungi para ahli ilmu
dan ahli hikmah, beriktikaf di masjid, serta giat beribadah, mengevaluasi diri,
dan menata kembali amal-amalnya.
21. Lebah makan dari hasil kerja kerasnya sendiri dan memberi
yang lain dari jerih payahnya sendiri. Ia tidak pernah mengganggu milik hewan
lain, bahkan matanya tidak pernah melirik sesuatu yang bukan miliknya. Seperti
itu jugalah seorang mukmin. Ia makan dari usahanya sendiri, memberi orang lain
dari hasil kerjanya sendiri, dan tidak pernah meminta-minta kepada orang lain
betapapun butuhnya.
22. Ketika di dalam sarangnya tidak ada sesuatu yang bisa
dimakan, lebah tidak akan masuk ke sarang lebah yang lain untuk mencari
makanan. Jika di dalam sarangnya ada sesuatu yang bisa dimakan, ia makan. Jika
tidak, ia pun menahan lapar. Demikian pula seorang mukmin. Betapapun ia
membutuhkan bahan makanan, ia tidak akan mendatangi rumah orang untuk
meminta-minta. Ia tidak akan berani mengambil milik orang lain dengan cara
paksa atau lewat kekerasan, betapapun sulitnya ia mendapatkan bahan pangan.
Jika ada orang yang memberi dengan suka rela, tanpa unsur pemaksaan, barulah ia
menerima. Jika tidak, ia pun menahan lapar.
23. Lebah tidak bekerja berdasarkan pendapat sendiri atau
menurut keinginan pribadi, melainkan berdasarkan petunjuk sang pemimpin. Ia
hanya mengikuti apa yang telah digariskan oleh sang raja dan tidak keluar dari
aturannya. Demikian juga seorang mukmin. Ia tidak beramal berdasarkan nalarnya
sendiri atau menurut selera pribadinya, melainkan mengikuti imam dan ulama
tepercaya.
24. Lebah tidak akan melaksanakan pekerjaannya sebelum
menutup pintu sarangnya. Selagi masih ada celah, lubang, atau kebocoran dalam
dinding sarangnya, ia terlebih dahulu memperbaikinya sebelum menggarap
pekerjaannya. Begitu jugalah seorang mukmin. Ia tidak merasakan manisnya ibadah
dan giatnya amal kecuali dalam kondisi tertutup ketika tidak ada yang
melihatnya kecuali Allah Swt. atau, paling-paling, anggota keluarganya. Amal
yang dilihat oleh anggota keluarga ketika berada di rumah atau oleh teman
ketika berada dalam perjalanan, tidak mengurangi nilai ikhlas.
25. Lebah tidak memerlukan banyak barang dunia. Yang
diperlukannya hanyalah air, bunga, dan tempat-tempat yang mengeluarkan aroma
wewangian. Begitu pula halnya dengan seorang mukmin. Di dunia ini, yang
dibutuhkannya hanyalah ilmu yang bermanfaat, zikir kepada Allah Swt., dan amal
saleh. Itulah yang menjadi kesibukannya. Ia mengonsentrasikan diri, berjuang,
dan mati di dalamnya.
26. Ukuran tubuh lebah kecil dan bentuknya tidak
menarik—untuk tidak mengatakan hina, tetapi hasil karyanya berbobot, berkualitas
tinggi, beharga mahal, berasa enak, dan merupakan makanan/minuman yang paling
manis. Seperti itu pulalah seorang mukmin. Ukuran tubuhnya mungkin kecil serta
banyak orang menghina dan meremehkan penampilannya, namun kualitas, nilai, dan
amalnya amat berbobot dan sungguh mulia.
27. Lebah mempunyai tiga keadaan, yaitu: terbang dengan
sayap, bergerak dan bekerja dengan tubuh, dan diam beristirahat. Demikian pula
seorang mukmin. Ia mempunyai tiga keadaan. Pertama keadaan ketika terbang
dengan hatinya, melintasi alam malakut dan dunia metafisik, serta meresapi
makna-makna ilmu. Kedua keadaan ketika beribadah, mengabdi, dan beramal dengan
anggota badan. Ketiga keadaan ketika berhenti dari dua keadaan sebelumnya.
Dalam keadaan ketiga ini, ia beristirahat dengan melakukan apa yang dihalalkan
oleh Allah Swt., seperti makan, minum, dan bercengkerama dengan anggota
keluarga.
28. Lebah akan mati-matian mengejar orang yang mengambil
barang miliknya, ke mana pun orang itu lari. Ia pasti akan mencegah tangan
orang yang hendak mengambil harta miliknya berupa sarang dan madu. Ia tidak
akan pernah menyerahkan harta miliknya begitu saja kepada siapa pun, kecuali
terpaksa. Demikian juga halnya dengan seorang mukmin. Demi menjaga kehormatan
diri, agama, keutuhan amal, dan keluarganya, ia rela mengorbankan jiwa dan
hartanya.
29. Semua jenis burung menjadi najis begitu mereka mati dan
tempat mereka mati juga menjadi najis. Lain halnya dengan lebah. Selagi hidup
dan sesudah mati, ia tetap suci. Begitu pula seorang mukmin. Semasa hidup dan
setelah matinya, ia tetap suci.
30. Makanan yang paling menggugah selera dan paling manis di
dunia ini adalah madu yang dihasilkan oleh lebah. Demikian juga halnya dengan
seorang mukmin. Ia menghasilkan manisan yang paling manis dan paling mengundang
selera, yaitu makrifat, iman yang murni, ilmu yang bermanfaat, dan cinta yang
suci.
31. Lebah, bila diterjang angin kencang hingga terlempar ke
permukaan air, ke tanah berlumpur, atau ke tengah-tengah duri, ia masih bisa
berjuang untuk bangkit dan akhirnya selamat lalu terbang lagi. Tetapi, apabila
terlempar ke dalam api atau ke tengah-tengah asap, ia tidak akan selamat dan
akhirnya binasa. Seperti itu pulalah seorang mukmin. Karena satu dan lain hal,
mungkin ia terhempas ke dalam lumpur dosa dan maksiat. Hampir dapat dipastikan,
ia bisa bangkit kembali dan keluar dari lumpur itu. Namun, jika ia terjerumus
ke dalam kekufuran dan bidah, ia pasti akan binasa di dalamnya. Tidak ada
harapan untuk bisa selamat.
32. Semua burung dapat dipikat dengan biji-bijian yang
disimpan di dalam perangkap, sedangkan lebah tidak bisa dipancing dengan apa
pun selain dengan apa yang dihasilkannya, yakni madu. Begitu terperangkap dalam
madu, ia mati di dalamnya. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin. Ia tidak
bisa dipancing dengan benda atau rayuan duniawi. Ia hanya akan terpancing oleh
Allah Swt. atau dengan apa yang dimiliki-Nya, seperti kebenaran, ilmu, dan
hikmah.
33. Setiap kelompok lebah mempunyai seekor pemimpin. Selama
sang pemimpin berada di tengah-tengah mereka, musuh tidak akan berani mengusik
dan tidak akan coba-coba mengambil milik mereka. Apabila sang raja mati atau
pergi meninggalkan mereka, mereka pun kocar-kacir berhamburan dan akhirnya satu
persatu binasa. Demikian juga kaum mukmin. Selama para ulama dan imam berada di
tengah-tengah mereka, musuh tidak akan berani mengusik mereka dan setan tidak
akan berani mengganggu mereka. Jika tidak ada seorang pun ulama dan imam di
antara mereka, mereka pun tercerai-berai dan akhirnya binasa.
34. Apabila raja lebah mempunyai cacat, rakyat lebah tidak
dapat bekerja dengan baik, sarang pun tidak terawat dengan baik, dan pada
gilirannya mereka akan hancur. Sebaliknya, jika sang raja lurus dan bertindak
dengan bijaksana, rakyat lebah pun hidup dengan baik dan lancar. Seperti itu
pulalah kaum mukmin. Bila para pemimpin mereka adil, para ulamanya bertakwa,
serta para pedagang dan kaum profesionalnya jujur, maka urusan mereka akan
berjalan dengan baik dan lancar. Jika tidak, mereka akan celaka.
35. Komunitas lebah akan tetap makmur meskipun sebagian
anggota komunitasnya ada yang mengikuti hawa nafsu, ditimpa penyakit, atau
melakukan kesalahan, selama raja mereka adil dan bertindak lurus. Demikian juga
komunitas kaum mukmin. Apabila kalangan khusus mereka sudah tidak
bermoral, kalangan awam pun akan terbawa binasa. Sebaliknya, meskipun kelakuan
kalangan awam bobrok, mereka tidak akan binasa selama kalangan khusus
berperilaku baik dan berakhlak mulia.
36. Ada dua jenis lebah: lebah yang ada di gunung-gunung dan
bersarang di pepohonan dan lebah yang ada di tengah-tengah keramaian dan
bersarang di perumahan. Lebah yang ada di gunung-gunung dan bersarang di
pepohonan terlindung dari polusi dan relatif aman dari ancaman kebinasaan. Lebah
yang ada di tengah-tengah perkampungan manusia dan bersarang di rumah-rumah
atau bangunan lain yang dibuat oleh manusia, tidak aman dari bahaya kehancuran.
Demikian juga halnya dengan orang beriman, ada dua macam. Di antara mereka ada
yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pasar-pasar dan sentra-sentra
keramaian lainnya. Ada pula yang menempuh pola hidup zuhud, jauh dari
keramaian, dan gemar mengasingkan diri di gunung-gunung atau di gua-gua untuk
berkhalwat. Yang pertama relatif tidak aman dari fitnah dan kemungkinan
terjerumus dalam hal yang haram dan syubhat. Yang kedua aman dari semua itu;
mereka lebih tenteram, damai, selamat, dan suci.
37. Lebah tinggal di dalam sarang yang terbilang bersih dari
benda-benda yang tidak diperlukan dan kosong dari barang-barang yang tidak
berguna. Lebah, bahkan, tidak menyimpan sumber pangannya di dalam sarang.
Dengan kata lain, ia tidak pernah membawa sekuntum bunga atau sumber makanan
lainnya ke dalam sarang. Hal itu tidak membuatnya takut kelaparan. Ia begitu tenang
dan damai tinggal di dalam sarang tanpa ada kekhawatiran akan sumber pangan.
Demikian juga halnya dengan seorang mukmin. Ia tidak takut akan kemiskinan dan
kebangkrutan. Menjadi miskin atau kaya baginya sama saja, sebab yang membuat
dirinya merasa kaya adalah limpahan keyakinan dan manisnya kebersamaan dengan
Tuhan.
38. Kawanan lebah, jika dipindahkan dari satu tempat ke
tempat lain, mereka menurut saja dan tinggal di tempat yang baru dengan nyaman.
Seperti itu pulalah seorang mukmin. Di mana pun ia berada dan ke mana pun ia
diajak, dengan senang hati ia akan menjalani dan mengikutinya. Rasulullah saw.
bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti air, mengalir dengan mudah
ke mana saja selama di sana tidak ada hal-hal yang dilarang oleh agama atau
hal-hal yang dapat mengurangi kadar keberagamaannya.”
39. Lebah tidak suka dengan iklim yang terlalu panas atau
terlalu dingin. Itu karena, baik iklim yang terlalu panas maupun yang terlalu
dingin, keduanya dapat mengganggu, bahkan menghancurkan tatanan kehidupan
mereka. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin. Ia berada di antara takut
dan harap. Terlalu berharap dapat merusak tatanan keberagamaannya dan
terlalu takut dapat membuatnya putus asa dari rahmat Tuhan.
40. Lebah takut akan dua hal, yaitu: terik matahari yang
menyengat di musim panas dan dingin yang menusuk di musim dingin. Begitu juga
halnya dengan seorang mukimin. Ia berada di antara dua hal yang ditakutkan,
yakni: ajal yang telah ditetapkan Allah Swt.—karena ia tidak tahu apa yang
telah Allah Swt. tentukan bagi dirinya dalam ketetapan itu—dan ketetapan yang
akan datang—karena ia tidak tahu apa yang Allah Swt. kehendaki bagi dirinya di
masa depan.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Seorang mukmin laksana lebah; ia memakan
yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, serta hinggap di ranting tanpa
mematahkannya.”
Inilah salah satu sifat mukmin. Ia memakan hanya yang baik dan memberi makan
kepada yang lain pun hanya dengan yang baik. Ia orang baik dan memberi kebaikan
bagi sesamanya. Ia memberi tanpa diminta, berlapang dada, bersikap santun, dan
jauh dari keinginan menyakiti orang. Di mana pun berada, ia tak pernah membuat
kerusakan. Tak heran jika persangkaan orang terhadapnya hanya persangkaan yang
baik. Dengan sifat-sifat inilah segolongan kaum mukmin dikenal.[]
* Syekh Abû Thâlib al-Makkî adalah ulama klasik, penulis kitab
termasyhur Qut al-Qulub (Nutirisi untuk Hati).